Apakah AI Bisa Menggantikan Dokter?
![]() |
| Sumber foto: healthcare.com. |
PERNAHKAH anda mencoba membuka
aplikasi kecerdasan buatan (AI) lalu mengungkah foto penyakit kulit lalu muncul
diagnosa jenis penyakitnya sekaligus obat yang dibutuhkan. Atau penyakit lain
yang dengan mudah dipindai menggunakan sistem AI sehigga muncul diagnosa yang
lebih cepat daripada sistem konvesional sehingga memudahkan dokter mengambil
tindakan. Ini bukan suatu kemustahilan namun ini sudah terjadi di negara-negara
maju yang menggunakan AI dalam bidang kesehatan dan kedokteran. Dari hal ini
muncul kekawatiran di masa depan akankah AI bisa menggantikan dokter?
Salah satu negara maju seperti Inggris menggunakan AI
untuk penanganan stroke. National Health Service (NHS) memperkenalkan alat pemindai berbasis AI yang
digunakan ratusan pusat stroke. Hasilnya waktu diagnose dari 140 menit menjadi
79 menit. Bahkan hasilnya tingkat pasien pulih dengan kecacatan minimal. Ini
sudah efisiensi sekaligus menyelamatkan nyawa.
Bidang kardiologi stetoskop AI mampu mendeteksi
berbagai penyakit jantung dalam hitungan belasan detik saja dengan akurasi.
Bahkan Microsoft sudah mengembangkan system diagnosis kompleks system AI
Bernama diagnostic orchestrator yangs udah di uji sekitar 300 lebih kasus
medis sulit. Hasilnya Tingkat akurasi
mencapai 85 persen lebih jauh melampaui dokter dalam kondisi terbatas yang
hanya sekitar 20 persen. Hal ini membuat AI seperti asisten dokter yang siaga
24 jam tanpa lelah.
Perlu diketahui sehebat apapaun AI masih ada faktor
yang tidak bisa menggantikan dokter. Dokter sebagai human (manusia) memiliki empati, simpati, komunikasi, serta intuisi
klinis. Dokter membaca data sekaligus
memandang pasien sebagai rasa kemanusiaan yang menenangkan.
Sementara itu AI masih memiliki
sejumlah resiko. Diantaranya bias data, provasi dan etika, ketergantungan
energi. AI memang lebih pintar namun dokter lebih menenangkan.
Peran AI di bidang
kesehatan mememiliki potensi besar. Namun sejumlah hambatan menjadi tantangan
utama. Yakni regulasi (siapa yang bertanggung jawab jika AI salah diagnosa),
keadilan akses, dan kepercayaan pasien.
Nah dari berbagai
keunggulan AI tersebut ideal kolaborasi (kerjasama) antara manusia dan AI. Sehingga pemeriksaan pasien berbasis AI dianalisis
dokter, kemudian dilakukan tindakan. Sehingga layanan Kesehatan semakin cepat,
akurat dan terjangkau. (diadaptasi dari berbagai sumber/tim prosains.com)
