Mikroplastik, Apa Dampaknya Bagi Lingkungan
MASYARAKAT banyak yang belum sadar bahwa penggunaan plastic yang setiap hari digunakan dapat menimbulkan gangguan Kesehatan dan lingkungan. Limbah plastic ini sering disebut sebagai mikroplatik karena sudah berbentuk potongan atau partikel plastic atau fiber kecil dengan ukuran diameter kurang dari 5 mm serta bisa mencemari lingkungan.
Diadaptasi dari unair.ac.id, plastik
dibagi menjadi tiga kategori, yaitu termoplastik, termoset, dan elastomer. Jenis plastik yang banyak digunakan antara lain
polietilen (PE), polipropilen (PP), polivinil klorida (PVC), polietilen
tereftalat (PET), poliuretan (PUR) dan polistiren (PS).
PET sebagian besar digunakan untuk bahan serat
sintetis (60 persen) dan sebagai bahan dasar kemasan botol (30 persen). PVS
mengandung DEHA yang dapat bereaksi dengan makanan atau minuman yang dikemas
dengan plastik ini.
Tiga jenis plastic ini memiliki dampak bagi lingkungan
karena sulit terurai. Keberadaan mikroplastik yang lama terurai ini bisa
menimbulkan gangguan keseimbangan ekosistem, mencemari sumber daya alam, serta
mempengaruhi mata rantai makanan dari organisme terkecil hingga manusia.
Nah, dilansir unair.ac.id hasil penelitian
keberadaan mikroplastik di lingkungan di Indonesia paling banyak pada sedimen
sungai dan laut. Bentuk dari mikroplastik yang diidentifikasi adalah serat,
fragmen, film, pelet, granul, busa, filamen, dan manik.
Dalam penelitian mikroplastik di
lingkungan hidup di Indonesia pada tahun 2022, sebanyak 16 persen dianalisis
jenis polimer plastik. Kajian yang mengidentifikasi jumlah, bentuk, dan
pewarnaan mikroplastik menggunakan metode visual dengan mikroskop adalah 84
persen. Ini menunjukkan lingkungan hidup di Indonesia sudah tercemar oleh
mikroplastik yang dapat berdampak pada kesehatan.
Berdasarkan realitas ini, harus ada
kesadaran masyarakat dalam menggunakan plastic sehingga dapat menguransi bahaya
mikroplatik pada lingkungan dan kesehatan. (tim prosains.com)
