Apa yang Sebenarnya Terjadi pada Tubuh Saat Kita Demam?
Ketika suhu tubuh naik, kita biasanya langsung berpikir:
“Tubuh sedang kepanasan.”
Padahal, pada kondisi demam, yang terjadi sebenarnya jauh lebih menarik.
Tubuh tidak sekadar menjadi panas karena lingkungan atau aktivitas fisik. Sistem pengatur suhu di otak justru mengubah target suhu tubuh, lalu tubuh menjalankan berbagai mekanisme untuk mencapai target baru tersebut.
Itulah sebabnya seseorang yang sedang demam bisa merasa kedinginan, menggigil, bahkan ingin memakai selimut meskipun suhu tubuhnya sebenarnya sedang meningkat.
Demam bukan sekadar tubuh menjadi panas. Demam adalah perubahan terkoordinasi dalam sistem pengaturan suhu tubuh.
Demam Itu Sebenarnya Apa?
Secara sederhana, demam adalah peningkatan suhu inti tubuh yang terjadi karena set-point pengaturan suhu di hipotalamus dinaikkan.
Hipotalamus adalah bagian otak yang berperan penting dalam mengatur suhu tubuh.
Bayangkan hipotalamus seperti thermostat pada sistem pendingin ruangan.
Jika thermostat ruangan diatur pada 24°C, sistem akan berusaha mempertahankan suhu di sekitar angka tersebut.
Pada demam, tubuh seolah-olah mengubah pengaturan thermostatnya ke angka yang lebih tinggi.
Akibatnya, suhu tubuh yang sebelumnya dianggap normal oleh sistem pengatur suhu sekarang dianggap terlalu rendah.
Tubuh kemudian mulai melakukan berbagai tindakan untuk menaikkan suhu hingga mencapai set-point baru tersebut.
Kenapa Saat Demam Kita Malah Merasa Kedinginan?
Ini salah satu bagian yang paling membingungkan.
Misalnya suhu tubuh seseorang sebelumnya berada di sekitar 37°C.
Kemudian sistem pengatur suhu menaikkan set-point menjadi lebih tinggi.
Tiba-tiba suhu tubuh yang sebelumnya terasa normal menjadi dianggap terlalu rendah dibandingkan target baru.
Otak kemudian memicu mekanisme untuk menghasilkan dan mempertahankan panas.
Hasilnya bisa berupa:
- menggigil;
- kulit terasa dingin;
- pembuluh darah kulit menyempit;
- mencari selimut atau tempat yang lebih hangat;
- dan rasa menggigil atau merinding.
Jadi, ketika seseorang berkata:
“Gue demam tapi malah kedinginan.”
Itu bukan kontradiksi.
Tubuh memang sedang berusaha menaikkan suhu menuju target baru.
1. Semuanya Bisa Dimulai dari Sistem Imun
Demam sering muncul ketika tubuh menghadapi infeksi, tetapi infeksi bukan satu-satunya penyebab.
Proses inflamasi tertentu dan beberapa kondisi non-infeksi juga dapat memicu respons demam.
Ketika sistem imun mendeteksi ancaman, berbagai molekul sinyal yang disebut sitokin dapat dilepaskan.
Beberapa sitokin yang berperan dalam respons demam antara lain:
- interleukin-1 atau IL-1;
- interleukin-6 atau IL-6;
- tumor necrosis factor atau TNF;
- dan mediator inflamasi lainnya.
Sinyal-sinyal tersebut membantu menghubungkan respons imun di tubuh dengan sistem pengaturan suhu di otak.
Jadi, demam dapat dipandang sebagai bagian dari komunikasi antara sistem imun dan sistem pengatur suhu tubuh.
2. Apa Peran Prostaglandin E2?
Di tengah rangkaian proses tersebut ada satu molekul yang sangat penting:
Prostaglandin E2 atau PGE2.
Ketika respons inflamasi berlangsung, sinyal-sinyal dari sistem imun memicu rangkaian proses yang meningkatkan produksi PGE2 pada area yang berkaitan dengan pengaturan suhu di otak.
PGE2 kemudian memengaruhi neuron pengatur suhu di area preoptik hipotalamus.
Akibatnya, set-point suhu tubuh dinaikkan.
Ini adalah salah satu mekanisme utama yang menjelaskan bagaimana respons imun akhirnya diterjemahkan menjadi demam.
Secara sederhana, alurnya bisa dibayangkan seperti ini:
Ancaman → respons imun → sitokin → PGE2 → set-point hipotalamus naik → tubuh menaikkan suhu.
Rangkaian sebenarnya jauh lebih kompleks, tetapi pola tersebut membantu kita memahami gambaran besarnya.
3. Tubuh Punya Beberapa Cara untuk Menaikkan Suhu
Setelah set-point meningkat, tubuh perlu mengejar target baru tersebut.
Ada beberapa mekanisme yang digunakan.
Menggigil
Menggigil merupakan kontraksi otot yang berlangsung cepat dan tidak disengaja.
Aktivitas otot tersebut menghasilkan panas.
Itulah sebabnya menggigil bisa menjadi salah satu cara tubuh meningkatkan produksi panas.
Menyempitkan Pembuluh Darah Kulit
Tubuh juga dapat melakukan vasokonstriksi perifer, yaitu mempersempit pembuluh darah di dekat permukaan kulit.
Tujuannya adalah mengurangi kehilangan panas dari tubuh ke lingkungan.
Akibatnya, tangan dan kaki seseorang yang sedang demam bisa terasa lebih dingin.
Mengubah Perilaku
Tubuh juga memengaruhi perilaku.
Seseorang mungkin secara spontan ingin:
- memakai selimut;
- mencari tempat yang lebih hangat;
- mengurangi aktivitas;
- atau meringkuk untuk mempertahankan panas.
Perilaku tersebut sebenarnya membantu tubuh mencapai set-point suhu yang baru.
4. Lalu Kenapa Setelah Itu Kita Bisa Berkeringat?
Ini adalah fase yang berbeda.
Setelah respons imun mereda atau mekanisme yang memicu demam dihentikan, set-point hipotalamus dapat kembali turun menuju tingkat normal.
Sekarang masalahnya berubah.
Suhu tubuh yang sebelumnya dianggap “terlalu rendah” tidak lagi dianggap rendah.
Justru tubuh sekarang memiliki suhu yang terlalu tinggi dibandingkan target baru yang lebih rendah.
Tubuh kemudian harus membuang panas.
Mekanismenya antara lain:
- pembuluh darah kulit melebar;
- aliran darah ke kulit meningkat;
- dan produksi keringat meningkat.
Itulah sebabnya seseorang bisa mengalami fase:
menggigil → suhu naik → kemudian berkeringat ketika suhu mulai turun.
Semua itu merupakan bagian dari proses termoregulasi.
5. Kenapa Demam Tidak Terus Naik Tanpa Batas?
Kalau tubuh terus menghasilkan panas, apakah suhu demam akan terus naik tanpa berhenti?
Tidak.
Inilah salah satu perbedaan penting antara demam dan kondisi hipertermia.
Pada demam, sistem pengatur suhu di hipotalamus menaikkan set-point dan tetap mengatur keseimbangan antara produksi serta pelepasan panas.
Ketika suhu tubuh sudah mendekati set-point baru, dorongan untuk terus menaikkan suhu berkurang.
Dengan kata lain, tubuh masih memiliki sistem pengaturan.
Pada hipertermia, kenaikan suhu terjadi tanpa perubahan set-point hipotalamus sebagai penyebab utamanya. Kondisi tersebut dapat muncul ketika tubuh menerima atau menghasilkan panas lebih banyak daripada kemampuan tubuh untuk membuangnya.
Karena mekanismenya berbeda, demam dan hipertermia tidak boleh dianggap sebagai hal yang sama.
6. Apakah Demam Berarti Tubuh Sedang Melawan Infeksi?
Sering kali, ya.
Tetapi kalimat tersebut perlu sedikit diperhalus.
Demam adalah salah satu bagian dari respons tubuh terhadap berbagai kondisi, dan infeksi merupakan salah satu pemicunya yang paling umum.
Respons tersebut melibatkan sistem imun dan perubahan fisiologis yang luas.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa respons demam dapat memiliki fungsi adaptif dalam menghadapi infeksi. Peningkatan suhu dan respons imun terjadi sebagai bagian dari sistem pertahanan tubuh.
Namun, kita tidak boleh mengubah fakta tersebut menjadi kesimpulan sederhana:
“Semakin tinggi demam, semakin bagus tubuh melawan penyakit.”
Itu tidak benar.
Manfaat dan risiko demam bergantung pada penyebab, tingkat kenaikan suhu, durasi, kondisi tubuh, usia, serta keadaan klinis seseorang.
7. Kenapa Saat Demam Kita Sering Merasa Lelah?
Demam tidak hanya mengubah suhu tubuh.
Respons imun yang menyertainya juga dapat memengaruhi berbagai fungsi tubuh.
Karena itu, seseorang yang sedang demam sering merasa:
- lemas;
- mengantuk;
- nafsu makan menurun;
- pegal;
- dan kurang berenergi.
Ini bukan berarti seluruh rasa lelah hanya disebabkan oleh kenaikan suhu.
Respons inflamasi, perubahan metabolisme, kurang tidur, kehilangan cairan, dan proses penyakit yang mendasarinya juga dapat berkontribusi.
Dengan kata lain, ketika tubuh sedang menghadapi ancaman, banyak sumber daya biologis dialihkan untuk menangani kondisi tersebut.
8. Kenapa Kita Sering Dianjurkan Banyak Minum Saat Demam?
Saat demam, tubuh dapat kehilangan lebih banyak cairan, terutama jika disertai keringat.
Jika demam juga disertai muntah atau diare, kehilangan cairan dapat menjadi lebih besar.
Karena itu, menjaga asupan cairan merupakan bagian penting dari perawatan suportif ketika seseorang sedang sakit.
Namun, kebutuhan cairan setiap orang berbeda dan bergantung pada kondisi masing-masing.
Jika seseorang tidak mampu minum, mengalami tanda dehidrasi, atau memiliki kondisi medis tertentu yang memengaruhi keseimbangan cairan, penanganannya tidak boleh disederhanakan hanya menjadi “minum sebanyak-banyaknya”.
9. Obat Penurun Demam Sebenarnya Melakukan Apa?
Obat antipiretik seperti obat yang menghambat jalur prostaglandin dapat membantu menurunkan demam.
Salah satu mekanismenya adalah mengurangi pembentukan PGE2 sehingga set-point pengaturan suhu kembali turun.
Ketika set-point turun, tubuh tidak lagi berusaha mempertahankan suhu yang sebelumnya lebih tinggi.
Akibatnya, mekanisme pelepasan panas seperti pelebaran pembuluh darah kulit dan berkeringat dapat membantu membawa suhu kembali turun.
Jadi obat penurun demam bukan sekadar “mendinginkan tubuh”.
Ia memengaruhi mekanisme pengaturan suhu yang menjadi dasar terjadinya demam.
10. Demam Tidak Selalu Berarti Infeksi
Karena demam sangat sering muncul saat infeksi, kita mudah menganggap setiap demam pasti disebabkan oleh virus atau bakteri.
Padahal, demam juga dapat muncul pada kondisi inflamasi tertentu, penyakit autoimun, reaksi terhadap obat, dan beberapa kondisi lainnya.
Karena itu, suhu tubuh saja tidak cukup untuk menentukan penyebab seseorang mengalami demam.
Yang lebih penting adalah melihat keseluruhan kondisi dan gejala yang menyertainya.
Kapan Demam Perlu Mendapat Perhatian Medis?
Demam sendiri merupakan gejala, bukan diagnosis.
Karena itu, keputusan mengenai kapan perlu mencari pertolongan medis tidak seharusnya hanya didasarkan pada satu angka suhu.
Perhatian medis menjadi semakin penting jika demam disertai kondisi seperti:
- kesulitan bernapas;
- kebingungan atau perubahan kesadaran;
- sakit kepala berat atau kaku leher;
- kejang;
- ruam yang mengkhawatirkan;
- tanda dehidrasi berat;
- atau kondisi lain yang membuat seseorang terlihat sangat sakit.
Pada bayi yang sangat muda, demam juga membutuhkan perhatian khusus dan sebaiknya tidak ditangani hanya berdasarkan panduan umum untuk orang dewasa.
Jika seseorang memiliki kondisi kesehatan tertentu, sedang menjalani pengobatan yang memengaruhi sistem imun, atau demam berlangsung dan memburuk, evaluasi tenaga kesehatan menjadi lebih penting.
Jadi, Apa yang Sebenarnya Terjadi Saat Kita Demam?
Sekarang kita bisa melihat seluruh prosesnya sebagai satu rangkaian.
Ancaman atau pemicu inflamasi
↓
Sistem imun mengaktifkan berbagai sinyal inflamasi
↓
Sinyal tersebut memicu jalur pembentukan PGE2
↓
Hipotalamus menaikkan set-point suhu tubuh
↓
Tubuh menghemat dan menghasilkan panas
↓
Menggigil + vasokonstriksi + perubahan perilaku
↓
Suhu tubuh meningkat menuju set-point baru
↓
Ketika set-point kembali turun, tubuh membuang panas
↓
Vasodilatasi + berkeringat → suhu kembali turun
Jadi, demam sebenarnya merupakan sebuah program fisiologis yang terkoordinasi, bukan sekadar angka pada termometer.
Kesimpulan
Demam terjadi ketika sistem pengatur suhu di hipotalamus menaikkan set-point tubuh sebagai bagian dari respons terhadap infeksi atau pemicu inflamasi lainnya.
Perubahan tersebut membuat tubuh berusaha mencapai suhu yang lebih tinggi melalui mekanisme seperti menggigil, menyempitkan pembuluh darah kulit, dan mengubah perilaku.
Ketika set-point kembali turun, tubuh beralih dari mempertahankan panas menjadi membuang panas melalui pelebaran pembuluh darah dan keringat.
Karena itu, sensasi kedinginan saat suhu tubuh sedang naik dan berkeringat ketika demam mulai turun sebenarnya dapat dijelaskan oleh mekanisme termoregulasi yang sama.
Hal terpenting yang perlu dipahami adalah:
Demam bukan sekadar tubuh yang “terlalu panas”. Tubuh sedang menjalankan respons biologis yang terkoordinasi.
Demam terjadi ketika set-point suhu tubuh di hipotalamus dinaikkan sebagai bagian dari respons tubuh terhadap infeksi atau proses inflamasi tertentu. Tubuh kemudian meningkatkan produksi panas dan mengurangi kehilangan panas untuk mencapai target suhu yang baru.
Sinyal dari sistem imun dapat memicu pembentukan prostaglandin E2 (PGE2) yang memengaruhi pusat pengaturan suhu di hipotalamus. Karena set-point berubah, tubuh dapat memicu menggigil dan vasokonstriksi saat suhu sedang naik, lalu beralih ke vasodilatasi dan berkeringat ketika set-point kembali turun.
Sumber Rujukan
- NCBI Bookshelf — Physiology, Fever — penjelasan fisiologi demam, set-point hipotalamus, PGE2, sitokin, menggigil, dan mekanisme termoregulasi.
- Pathogenesis of Fever — PMC — mekanisme patogenesis demam, peran sitokin, PGE2, hipotalamus, vasokonstriksi, menggigil, dan berkeringat.
- Neural Mechanisms of Inflammation-Induced Fever — PubMed — tinjauan mekanisme neural dan peran PGE2 dalam respons demam.
- Infection, Fever, and Exogenous and Endogenous Pyrogens — PubMed — hubungan antara infeksi, pyrogen, sitokin, COX-2, dan PGE2 dalam terjadinya demam.
- Antipyretic Use in Noncritically Ill Patients With Fever — PMC — tinjauan mengenai dasar fisiologis demam dan penggunaan antipiretik.
- Mayo Clinic — Fever: Symptoms & Causes — penyebab demam dan gambaran umum respons termoregulasi tubuh.
