Kenapa Kota Terasa Lebih Panas? Mengenal Fenomena Urban Heat Island

Kota padat dengan gedung dan jalan yang terasa panas akibat fenomena urban heat island


Pernah merasa bahwa udara di tengah kota terasa jauh lebih panas dibandingkan daerah yang lebih banyak pepohonan?

Siang hari terasa menyengat. Aspal seperti memancarkan panas. Gedung-gedung berdiri rapat, pepohonan semakin sedikit, dan bahkan ketika matahari sudah tenggelam, udara di kota kadang masih terasa gerah.

Ini bukan sekadar perasaan.

Ada fenomena yang secara ilmiah dikenal sebagai Urban Heat Island (UHI), atau pulau panas perkotaan.

Secara sederhana, UHI terjadi ketika wilayah perkotaan memiliki suhu yang lebih tinggi dibandingkan wilayah di sekitarnya karena karakteristik lingkungan kota membuat panas lebih mudah diserap, disimpan, dan dilepaskan kembali.

Jadi, kalau sebuah kota terasa semakin panas, masalahnya tidak selalu hanya karena cuaca.

Cara kita membangun kota juga menentukan seberapa banyak panas yang terperangkap di dalamnya.

Apa Itu Urban Heat Island?

Urban Heat Island adalah fenomena ketika kawasan perkotaan yang padat dan banyak dibangun memiliki suhu lebih tinggi dibandingkan area sekitarnya yang lebih sedikit mengalami pembangunan.

Kota menggantikan banyak permukaan alami seperti tanah, vegetasi, dan badan air dengan:

  • jalan;
  • trotoar;
  • atap bangunan;
  • gedung;
  • area parkir;
  • dan berbagai permukaan keras lainnya.

Permukaan-permukaan tersebut memiliki sifat termal yang berbeda dari vegetasi dan tanah alami.

Mereka dapat menyerap energi matahari dalam jumlah besar, menyimpannya sebagai panas, kemudian melepaskannya kembali ke lingkungan.

Akibatnya, kawasan perkotaan dapat menjadi semacam “pulau panas” yang dikelilingi wilayah yang relatif lebih sejuk.

Yang menarik, UHI bukan hanya terjadi di kota-kota raksasa. Fenomena ini dapat muncul pada berbagai skala perkotaan, tergantung kepadatan bangunan, tutupan lahan, vegetasi, kondisi cuaca, dan karakteristik wilayahnya.

Kenapa Aspal dan Beton Bisa Membuat Kota Lebih Panas?

Bayangkan dua permukaan.

Yang pertama adalah tanah dengan rumput dan pepohonan.

Yang kedua adalah aspal yang terbuka di bawah matahari.

Keduanya menerima energi matahari yang sama, tetapi cara keduanya menangani energi tersebut berbeda.

Pepohonan memberikan naungan dan membantu mendinginkan lingkungan melalui evapotranspirasi, yaitu pelepasan air dari tanaman ke atmosfer.

Sementara itu, permukaan keras seperti aspal, beton, dan atap konvensional cenderung menyerap dan menyimpan panas.

Ketika matahari terik, permukaan tersebut bisa menjadi sangat panas.

Dan panas itu tidak langsung menghilang ketika matahari mulai turun.

Sebagian panas yang tersimpan dapat dilepaskan kembali ke lingkungan.

Itulah salah satu alasan mengapa efek pulau panas perkotaan dapat terasa kuat bahkan setelah matahari terbenam.

1. Semakin Sedikit Vegetasi, Semakin Sedikit Pendinginan Alami

Pepohonan bukan hanya dekorasi kota.

Mereka merupakan bagian dari sistem pendinginan alami.

Ada dua mekanisme penting.

Pertama, naungan.

Daun dan tajuk pohon menghalangi sebagian radiasi matahari agar tidak langsung mengenai permukaan jalan, trotoar, kendaraan, dan bangunan.

Kedua, evapotranspirasi.

Tumbuhan mengambil air dari tanah dan melepaskannya ke atmosfer melalui proses fisiologis. Energi digunakan dalam proses tersebut sehingga membantu menurunkan panas di lingkungan sekitar.

Ketika vegetasi digantikan oleh permukaan keras, dua mekanisme pendinginan tersebut ikut berkurang.

Akibatnya, lingkungan kehilangan sebagian kemampuan alaminya untuk mendinginkan diri.

2. Kota Menyimpan Panas Lebih Lama

Salah satu karakteristik penting UHI adalah kemampuan permukaan perkotaan untuk menyimpan panas.

Pada siang hari, jalan, atap, dinding, dan permukaan keras menerima energi matahari.

Sebagian energi tersebut tersimpan sebagai panas.

Ketika malam tiba, permukaan tersebut perlahan melepaskan panas yang tersimpan.

Karena itu, perbedaan suhu antara kawasan perkotaan dan daerah sekitarnya sering kali tetap terlihat pada malam hari.

Dengan kata lain, kota tidak hanya menerima panas.

Kota juga bisa menjadi penyimpan panas.

3. Gedung Tinggi dan Jalan Sempit Bisa Mengubah Aliran Udara

Bentuk fisik kota juga berpengaruh.

Bayangkan sebuah kawasan dengan gedung-gedung tinggi yang berdiri rapat dan jalan yang sempit.

Bangunan tersebut dapat mengubah pola pergerakan udara.

Dalam kondisi tertentu, struktur seperti ini dapat mengurangi aliran angin yang seharusnya membantu membawa panas keluar dari kawasan tersebut.

Ruang di antara bangunan sering disebut sebagai urban canyon.

Jika bentuk dan orientasi bangunan tidak memungkinkan sirkulasi udara yang baik, panas dapat lebih sulit dilepaskan.

Jadi, masalah panas perkotaan bukan hanya soal berapa banyak gedung, tetapi juga bagaimana gedung-gedung tersebut disusun.

4. Kota Juga Menghasilkan Panasnya Sendiri

Belum selesai sampai di sini.

Kota bukan hanya menyerap panas dari matahari.

Aktivitas manusia juga menghasilkan anthropogenic heat, atau panas yang berasal dari aktivitas manusia.

Sumbernya antara lain:

  • kendaraan bermotor;
  • mesin dan peralatan industri;
  • bangunan;
  • sistem pendingin udara;
  • pembangkit energi;
  • dan berbagai aktivitas ekonomi lainnya.

Contoh sederhananya adalah AC.

AC memang mendinginkan ruangan di dalam bangunan.

Tetapi sistem tersebut membuang panas ke lingkungan luar.

Dalam skala satu rumah, efeknya kecil.

Namun bayangkan jutaan unit AC beroperasi secara bersamaan di kawasan perkotaan yang padat.

Ditambah kendaraan, industri, dan aktivitas lainnya.

Semua sumber panas tersebut ikut menjadi bagian dari neraca energi perkotaan.

5. Kenapa Kota Kadang Terasa Sangat Panas di Malam Hari?

Ini salah satu karakteristik UHI yang menarik.

Siang hari memang panas, tetapi kawasan perkotaan tertentu dapat tetap relatif hangat setelah matahari terbenam.

Salah satu alasannya adalah pelepasan panas yang tersimpan pada material perkotaan.

Jalan dan bangunan yang sudah menyerap panas sepanjang hari tidak tiba-tiba menjadi dingin ketika matahari hilang.

Mereka terus melepaskan sebagian energi yang tersimpan.

Karena itu, malam hari di kawasan yang sangat padat dapat terasa lebih panas dibandingkan area yang memiliki lebih banyak vegetasi dan permukaan alami.

Namun besarnya efek tersebut tidak selalu sama.

Angin, awan, kelembapan, kondisi geografis, dan karakteristik kawasan dapat memperkuat atau mengurangi UHI.

Urban Heat Island Bukan Berarti Semua Kota Selalu Lebih Panas

Ini penting supaya kita tidak salah memahami istilahnya.

UHI bukan berarti setiap titik di kota selalu lebih panas daripada setiap titik di luar kota.

Suhu di dalam satu kota sendiri bisa sangat berbeda.

Kawasan dengan banyak pohon, taman, kolam, dan ruang terbuka dapat memiliki kondisi yang lebih sejuk dibandingkan kawasan yang didominasi beton dan aspal.

Karena itu, para peneliti membedakan antara surface heat island dan atmospheric heat island.

Surface heat island berkaitan dengan suhu permukaan seperti atap, jalan, dan trotoar.

Sementara atmospheric heat island berkaitan dengan suhu udara di atmosfer perkotaan dibandingkan wilayah sekitarnya.

Keduanya tidak selalu menunjukkan pola yang sama.

Itulah sebabnya peta suhu permukaan dari satelit tidak boleh langsung dianggap sama dengan suhu udara yang dirasakan manusia.

Bagaimana dengan Kota-Kota di Indonesia?

Fenomena ini bukan hanya persoalan kota-kota di negara empat musim.

BMKG juga telah membahas Urban Heat Island dalam konteks kota-kota di Indonesia.

Dalam publikasi BMKG, sejumlah kota besar seperti Jabodetabek, Medan, Surabaya, Makassar, dan Bandung disebut termasuk dalam kelompok kota dengan nilai Land Surface Temperature yang tinggi.

BMKG juga menyoroti beberapa faktor yang berhubungan dengan UHI, termasuk perubahan tutupan lahan, sedikitnya vegetasi, struktur geometris kota, dan semakin banyaknya permukaan kedap air.

Artinya, pertumbuhan kota bukan hanya mengubah pemandangan.

Ia juga dapat mengubah karakter termal lingkungan tempat kita hidup.

Kenapa Urban Heat Island Penting untuk Kesehatan?

Panas bukan sekadar persoalan kenyamanan.

Paparan suhu tinggi dapat memberikan tekanan tambahan terhadap tubuh manusia.

Risikonya menjadi semakin penting ketika suhu tinggi berlangsung lama atau terjadi bersamaan dengan gelombang panas.

Review ilmiah mengenai UHI menunjukkan bahwa efek pulau panas dapat memperburuk paparan panas di kawasan perkotaan, terutama ketika terjadi gelombang panas.

Kelompok tertentu juga dapat lebih rentan terhadap dampak panas, termasuk lansia, anak-anak, orang dengan kondisi kesehatan tertentu, serta mereka yang bekerja di luar ruangan atau tidak memiliki akses terhadap tempat yang sejuk.

Meta-analisis terhadap studi kesehatan perkotaan juga menemukan hubungan antara peningkatan suhu dengan meningkatnya risiko morbiditas dan mortalitas terkait panas.

Karena itu, UHI bukan sekadar masalah estetika kota.

Ini juga merupakan persoalan kesehatan publik.

Kota yang Lebih Panas Juga Bisa Membutuhkan Lebih Banyak Energi

Ketika suhu lingkungan meningkat, kebutuhan untuk mendinginkan bangunan dapat ikut meningkat.

Lebih banyak panas berarti AC harus bekerja lebih keras atau lebih lama untuk mempertahankan suhu ruangan.

Akibatnya konsumsi listrik dapat meningkat.

Ini menciptakan hubungan yang menarik:

Kota lebih panas → kebutuhan pendinginan meningkat → konsumsi energi meningkat.

Dan jika energi tersebut masih banyak berasal dari sumber yang menghasilkan emisi, kebutuhan energi tambahan dapat memiliki konsekuensi lingkungan yang lebih luas.

Karena itu, mengurangi UHI bukan hanya tentang membuat kota terasa lebih nyaman.

Ini juga berkaitan dengan efisiensi energi dan ketahanan infrastruktur perkotaan.

Lalu, Bagaimana Cara Membuat Kota Lebih Sejuk?

Kabar baiknya, UHI bukan fenomena yang sama sekali tidak bisa dikendalikan.

Ada beberapa strategi yang dapat digunakan.

1. Mempertahankan dan Menambah Vegetasi

Pohon dan ruang hijau dapat memberikan naungan serta membantu proses pendinginan melalui evapotranspirasi.

Tetapi menanam pohon tidak cukup jika hanya dilakukan secara simbolis.

Yang penting adalah bagaimana vegetasi ditempatkan dalam sistem kota sehingga benar-benar memberikan manfaat termal bagi manusia dan bangunan.

2. Menggunakan Atap yang Lebih Memantulkan Panas

Cool roofs menggunakan material atau lapisan yang dapat memantulkan lebih banyak energi matahari dan mengurangi penyerapan panas dibandingkan atap konvensional tertentu.

Strategi ini dapat membantu mengurangi suhu permukaan atap dan kebutuhan pendinginan bangunan.

3. Green Roof

Atap hijau menggunakan vegetasi pada bagian atap bangunan.

Selain menyediakan lapisan vegetasi tambahan, green roof dapat membantu mengurangi pemanasan permukaan melalui naungan dan evapotranspirasi.

4. Memikirkan Kembali Material Perkerasan

Jalan dan area parkir merupakan bagian besar dari permukaan kota.

Karena itu, pemilihan material perkerasan juga dapat berpengaruh.

Strategi seperti cool pavement dan perkerasan yang memungkinkan infiltrasi air dapat digunakan dalam konteks tertentu untuk membantu mengurangi panas permukaan dan meningkatkan pengelolaan air.

5. Mendesain Kota agar Udara Bisa Bergerak

Kota juga perlu mempertimbangkan ventilasi alami.

Jarak antarbangunan, orientasi jalan, ketinggian bangunan, dan ruang terbuka dapat memengaruhi bagaimana udara bergerak melalui kawasan perkotaan.

Jadi, solusi UHI bukan sekadar:

“Tanam lebih banyak pohon.”

Yang dibutuhkan adalah pendekatan yang lebih menyeluruh terhadap desain kota, material, vegetasi, air, energi, dan tata ruang.

Kota Sejuk Bukan Berarti Kota Tanpa Bangunan

Ada satu miskonsepsi lagi yang perlu diluruskan.

Mengurangi Urban Heat Island bukan berarti kota harus berhenti berkembang atau seluruh permukaan harus dikembalikan menjadi hutan.

Kota tetap membutuhkan jalan, bangunan, transportasi, kawasan bisnis, industri, dan infrastruktur.

Persoalannya adalah bagaimana semua itu dirancang.

Kita dapat membangun kota yang padat sekaligus mempertimbangkan ruang hijau.

Kita dapat menggunakan material yang lebih sesuai dengan kondisi panas.

Kita dapat merancang bangunan dan jalan dengan mempertimbangkan sirkulasi udara.

Kita juga dapat menggabungkan vegetasi, air, dan ruang terbuka ke dalam sistem perkotaan.

Dengan kata lain:

Masalahnya bukan kota itu sendiri. Masalahnya adalah bagaimana kota dirancang dan dikelola.

Kesimpulan

Urban Heat Island terjadi ketika kawasan perkotaan menjadi lebih hangat dibandingkan wilayah sekitarnya karena kombinasi permukaan keras, berkurangnya vegetasi, bentuk kota, terbatasnya aliran udara, dan panas yang dihasilkan aktivitas manusia.

Jalan, atap, beton, dan bangunan dapat menyerap serta menyimpan panas. Sementara berkurangnya pepohonan berarti berkurangnya naungan dan pendinginan alami melalui evapotranspirasi.

Dampaknya tidak berhenti pada rasa gerah.

UHI dapat meningkatkan kebutuhan energi untuk pendinginan dan memperbesar paparan panas yang berisiko bagi kesehatan, terutama ketika terjadi kondisi panas ekstrem.

Karena itu, membuat kota lebih nyaman bukan hanya persoalan menambah AC.

Kota juga perlu didesain agar tidak terlalu banyak menghasilkan, menyimpan, dan menjebak panas.

TAHU APA • PAHAM KENAPA
TAHU APA

Urban Heat Island (UHI) adalah fenomena ketika kawasan perkotaan cenderung lebih panas dibandingkan wilayah sekitarnya karena permukaan keras, berkurangnya vegetasi, bentuk kota, dan panas dari aktivitas manusia.

PAHAM KENAPA

Kota bukan hanya menerima panas matahari, tetapi juga menyerap, menyimpan, dan melepaskan kembali panas melalui jalan, atap, bangunan, serta permukaan lainnya. Ketika vegetasi dan ruang terbuka berkurang, kemampuan alami lingkungan untuk mendinginkan diri juga ikut menurun.


Sumber Rujukan

  1. U.S. Environmental Protection Agency — What Are Heat Islands? — penjelasan mengenai definisi, penyebab, karakteristik, dan dampak Urban Heat Island.
  2. U.S. Environmental Protection Agency — Guide to Reducing Heat Islands — strategi mitigasi melalui pohon dan vegetasi, green roofs, cool roofs, dan cool pavements.
  3. BMKG — Cuaca di Kota Semakin Panas, BMKG Ajak Generasi Muda Mitigasi Urban Heat Island — konteks Urban Heat Island dan kondisi sejumlah kota di Indonesia.
  4. Jurnal Meteorologi dan Geofisika — Analisis Spasial Fenomena Urban Heat Island Kota Kendari — penelitian mengenai hubungan perubahan tutupan lahan dengan fenomena UHI di Kota Kendari.
  5. The Urban Heat Island: Implications for Health in a Changing Environment — review ilmiah mengenai UHI dan implikasinya terhadap kesehatan.
  6. Heat exposure impacts on urban health: A meta-analysis — meta-analisis mengenai hubungan paparan suhu tinggi dengan dampak kesehatan di lingkungan perkotaan.