CUACA
panas dan kondisi udara yang lebih kering masih mewarnai sejumlah wilayah
Indonesia pada awal Oktober 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika
(BMKG) menyebut kondisi tersebut terjadi di tengah pengaruh El NiƱo dengan
intensitas sangat kuat dan fase positif Indian Ocean Dipole (IOD). Kondisi
atmosfer yang relatif kering tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga
dapat membuat tubuh lebih cepat lelah dan memengaruhi kondisi emosional.
Kondisi
tersebut turut menjadi perhatian dari sisi psikologis, Dosen Psikologi
Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Alifah Nabilah Masturah, S.Psi., M.A.,
menjelaskan bahwa rasa tidak nyaman akibat suhu panas dapat menjadi beban bagi
tubuh, baik secara fisik maupun psikis. Dalam psikologi, kondisi tersebut
berkaitan dengan teori beban stimulus, ketika tubuh menerima rangsangan
lingkungan yang melebihi kapasitas normal.
“Kalau
stimulus yang kita terima, kondisi yang kita terima itu melebihi kapasitas dari
normalnya tubuh kita, itu akan berdampak pada meningkatnya hormon kortisol.
Hormon kortisol itu salah satu pemicu stres,” jelasnya 06 Oktober lalu pada
Humas UMM.
Menurut
Alifah sapaan akrabnya, peningkatan stres akibat kondisi lingkungan yang tidak
nyaman dapat memengaruhi respons emosional. Suhu panas membuat tubuh bekerja
lebih keras untuk beradaptasi sehingga rasa lelah dan tidak nyaman meningkat.
Kondisi tersebut juga dapat membuat proses berpikir tidak berjalan secara
optimal.
Akibatnya,
seseorang dapat menjadi lebih sensitif dalam menangkap perkataan maupun
tindakan orang lain. Hal-hal yang sebenarnya bersifat netral lebih mudah
dimaknai sebagai sesuatu yang mengganggu atau bernada negatif.
“Hal-hal
yang netral mungkin kita anggapnya suara keras, ‘kok nyolot’, atau bercanda
tapi kok kayaknya kasar,” ungkapnya.
Selain
suhu lingkungan, kondisi tubuh turut menentukan kemampuan seseorang dalam
mengelola emosi. Dehidrasi dan kurang tidur dapat memperburuk kondisi fisik
sekaligus memengaruhi keadaan psikologis. Karena itu, menjaga kondisi tubuh
menjadi bagian penting untuk mengantisipasi perubahan suasana hati saat cuaca
panas.
Salah
satu aspek yang perlu diperhatikan ialah kualitas tidur. Ia menegaskan bahwa
tidur yang baik tidak hanya diukur dari durasinya, tetapi juga dari seberapa
optimal tubuh dan otak mendapatkan waktu untuk beristirahat.
“Tidur
itu bukan perkara lamanya, tapi kualitasnya,” tuturnya.
Wanita
itu menjelaskan, tidur yang sering terbangun atau tidak nyenyak belum tentu
memberikan pemulihan optimal. Sebaliknya, tidur berkualitas membantu tubuh dan
pikiran mendapatkan pemulihan sehingga seseorang lebih siap menjalani
aktivitas.
Ketika
mulai merasa mudah tersulut emosi akibat cuaca panas, ia menyarankan untuk
mengurangi stimulus yang membuat tubuh tidak nyaman. Berteduh, minum air, atau
mencuci muka dapat menjadi langkah sederhana untuk membantu tubuh kembali
rileks.
“Kalau karena cuaca panas, berarti kita harus berteduh.
Minum juga bisa jadi salah satu cara. Kalau memungkinkan, malah cuci muka itu
nggak masalah sebenarnya,” ungkapnya.
Ia juga mengajak masyarakat mengenali emosi dan strategi
pribadi dalam menghadapi stres. Setiap orang memiliki cara berbeda dalam
mengelola tekanan sehingga penting memahami kondisi diri.
“Yang
pertama itu simple, kita kenal emosi kita. Kita tahu hal-hal apa yang bisa
membuat kita senang sama membuat kita bete,” ujarnya.
Dengan
mengenali kondisi tubuh, menjaga kualitas tidur, memenuhi kebutuhan cairan, dan
mengurangi paparan panas ketika mulai tidak nyaman, seseorang dapat lebih siap
mengendalikan respons emosional di tengah kondisi cuaca panas.(faqih ahmad wafir
Rahman/rilis grup journalists umm lovers)