Peluang Bisnis Baru, Selai-POC Apel Kota Batu

 

Apel grade A hingga C ternyata bisa digunakan selai dan POC.

BATU – Mahasiswa Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) bidang studi PGSD Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Kelompok 2 melatih anggota Dasawisma Desa Sumbergondo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, mengolah apel Anna menjadi selai dan pupuk organik cair (POC), Minggu (6/9/2026).

Inovasi tersebut dijelaskan Ketua Kelompok 2 PPG PGSD 4 UMM, Camelia Nur Laili, bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari Proyek Kepemimpinan PPG UMM, dengan dosen pendamping Dr. Anis Farida Jamil, M.Pd. Sementara anggota Kelompok 2 PPG PGSD 4 UMM antara lain Niken Nurhanifah Sururi, Thalia Leonie Gheacheshita, Nurul Ezzah Hafilda, Vivi Aisalwa Zuhrah, Shalihah Syifaanddini, Vivi Pradita, Cici Lutfiawati, Nabila Yumna Nurfaizah, dan Eka Anisatul Latifah. 

Dari kegiatan ini, tambah Camelia, kelompok 2 PPG PGSD 4 UMM mengungkapkan dampak ekonominya masih berupa peluang dan membutuhkan pendampingan lanjutan, termasuk sertifikasi halal dan hak kekayaan intelektual yang masih proses. Selai dan POC berpotensi membuka usaha rumahan baru bagi keluarga petani.

Mahasiswa PPG UMM bersama anggota dasawisma Desa Sumbergondo menunjukkan inovasi olah apel jadi selai dan POC. 

Camelia menyebutkan  peserta dilatih Kelompok 2 PPG PGSD 4 UMM untuk menambah nilai apel agar tidak hanya dijual segar. Apel grade A hingga C yang masih layak konsumsi diolah menjadi selai, yang bisa menjadi isian roti, pie, dan nastar. Kulit apelnya difermentasi menjadi POC.

Tim mendemonstrasikan pembuatan selai dan POC, kemudian peserta mempraktikkan pembuatan selai dan mengemasnya dalam glass jar 100 ml. Selain itu setiap peserta juga menerima buku saku resep kreasi selai apel. Menariknya Camelia menegaskan dari pelatihan pembuatan selain dan POC apel ini dalam survei terhadap sembilan peserta menunjukkan seluruh 89 jawaban yang terisi bernada positif.

Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Desa Sumbergondo, Suliyono, mengatakan luas kebun apel di Desa Sumbergondo sekitar 2 hektare pada 2017–2020. Namun saat ini tersisa sekitar 0,5 hektare. Dinas Pertanian Kota Batu menyebut alih fungsi lahan dan menurunnya kualitas tanah sebagai sebagian faktornya. Petani juga masih menghadapi harga jual yang naik turun.

Salah satu peserta pelatihan dari RT.01/RW.02, Bicka Lestari, merasakan manfaat ilmu baru tentang pengolahan apel yang ternyata bisa dibuat selai dan kulitnya bisa dibuat pupuk, jadi tidak ada sampah. (tim kelompok 2 ppg pgsd 4 umm)